Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan ; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!"

Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan ; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!"
Digerai sebuah toko dijajarkan buah anggur sedang ada harga khusus, begitu menggiurkan sekali. Maka saya membelinya kelihatannya sih enak dan manis. Pas dirumah ternyata asam. Yaghh mengecewakan!.
Pernahkah kita bertanya atau mendapatkan pertanyaan berkenaan dengan kuasa Allah misalnya: apakah Tuhan Yesus mampu menolong saya? Siapa sih Tuhan Yesus itu? Jika Tuhan berkuasa, sayang kenapa Tuhan Yesus tidak jawab doa saya? Dalam perjalanan iman ditengah kehidupan ini bisa jadi kita berhadapan dengan realita yang suram, tidak menyenangkan, menyedihkan, mengecewakan dengan kuasa Tuhan Allah. Dalam masa ini akan hadir pertanyaanpertanyaan tersebut. Begitu juga dengan pergumulan dalam keluarga kita atau dalam kesibukan berbagai urusan dan perjuangan dalam kehidupan keluarga. Kita bisa kehilangan kuasa Tuhan Yesus beralih kepada tindakan yang formalitas atau sekedar berjalan sehingga KUASA ILAHI TUHAN YESUS kurang terasa hidup dan hangat.
Sikap merasa diperlakukan tidak adil terjadi karena merasa hak/apa yang diterima tidak sesuai dengan yang sudah dilakukan dan menjadi bagiannya. Banyak orang yang berpikir bahkan menjadi menuntut ketika sudah melakukan yang jadi bagiannya, tetapi tidak mendapatkan bagian yang semestinya. Apalagi melihat orang lain mendapatkan lebih dari yang seharusnya menurut penilaian kita. Ini seringkali menjadi penghambat untuk melihat dan mengalami kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan kita.
Kemampuan untuk mengampuni merupakan salah satu aspek ketrampilan sosial (soft skill) penting yang dibutuhkan di zaman sekarang ini supaya tetap bisa berelasi dengan sesama dan berdampak dalam kehidupan dunia. Hal ini disebabkan dalam relasi dengan orang lain pengalaman “dilukai” atau “melukai” merupakan realita yang tidak terhindarkan dan bisa terjadi atau dialami oleh semua orang dan tidak memandang usia maupun kalangan atau kedudukannya. Bahkan diakui atau tidak pengalaman “dilukai” atau “melukai” oleh orang yang sama bisa terjadi berulang kali ketika merasa bahwa tindakannya biasa saja atau tidak merasa telah melukai sesamanya.