Dorongan untuk menjadi popular semakin kuat dijaman sekarang. Semakin popular maka semakin hebat, berwibawa. Menjadi popular semakin membawa manusia pada kenyataan yang ironis dimana kepopuleran menjadi standar hidup dan kebahagiaan karena dorongan untuk menjadi popular membawa manusia pada dorongan: ‘Aku yang hebat, aku yang terkuat, Aku satu-satunya penentu.’. Pemahaman ini dengan sadar atau tanpa sadar akan membawa manusia pada kehancuran dirinya sendiri. Kehancuran dalam kesepian, kehampaan dan sia-sia. Manusia menjadi letih karena harus mengejar, meningkatkan dan mempertahankan kepopulerannya. Contohnya saja dengan kenyataan yang dihadapi oleh artis-artis Korea yang banyak mengambil Keputusan untuk bunuh diri dengan alasan depresi atas tuntutan sebagai artis atau tekanan dari para netizen saat mengalami masalah. Popularisme akhirnya membawa manusia pada kehilangan identitas diri, relasi hangat dengan Tuhan dan sesama.








