Bacaan I : Kisah Para Rasul 2: 42-47
Mazmur Tanggapan: Mazmur 23
Bacaan II : 1 Petrus 2: 19-25
Bacaan Injil : Yohanes 10: 1-10
Fasilitas lengkap, pengaruh besar, dan kekayaan melimpah tidak serta-merta menjadi indikasi hidup yang berkelimpahan. Howard Hughes adalah seorang miliarder asal Amerika Serikat. Namun, banyak yang berkomentar bahwa Hughes mengalami kehampaan yang mendalam dalam hidupnya. Pada tahun terakhir hidupnya, ia hidup menyendiri di kamar hotel yang gelap dan steril, tak mau disentuh orang, bahkan memotong dirinya dari relasi sosial.
Ada orang yang mencari makna dan ketenangan, tetapi justru terjebak oleh suara-suara palsu yang menjanjikan kebahagiaan sekejap atau pemuasan diri sendiri yang angkuh. Dalam konteks inilah suara Yesus, Sang Gembala sejati, menjadi penting untuk dikenali dan diikuti. Yesus datang tidak hanya untuk menyelamatkan, tetapi juga untuk memberi hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10). Hidup yang seperti apakah itu? Hidup yang tidak sesempit diisi kelimpahan materi, tetapi hidup dalam kasih, pengampunan, pemeliharaan, dan persekutuan yang mendalam dengan Allah dan sesama ciptaan.
Kisah jemaat mula-mula menunjukkan bahwa hidup yang dipenuhi Roh Kudus membuahkan solidaritas, doa-doa yang tulus, serta pelayanan kasih yang nyata (Kis. 2:42-47). Memang hidup yang demikian tidak selalu berjalan mulus dan nyaman. Dalam hal ini, Daud menegaskan bahwa Tuhan sebagai Gembala setia menuntun umat-Nya, bahkan dalam lembah kekelaman (Mzm. 23:4). Jika kepedihan, bahkan penderitaan, muncul dalam perjalanan hidup yang sedang melanjutkan kasih Kristus, ingatan suci kepada luka Kristus, Sang Gembala yang baik akan menghadirkan kesembuhan dan arah serta makna hidup yang sehat sesuai hikmat-Nya (1Ptr. 2:24-25).
Hidup berkelimpahan dalam Kristus tidak pernah dan tidak boleh berakhir pada diri sendiri. Sebab, Kristus mengundang semua yang menerima kelimpahan itu untuk tekun berkarya bersama-Nya dengan kekuatan Roh Kudus dalam membentuk komunitas yang saling peduli, untuk menjadi jalan kasih Bapa di tengah dunia. Maka, panggilan tindakan iman untuk Minggu ini adalah bagaimana umat bersedia mengenali suara Sang Gembala yang baik, hidup dalam penyertaan dan bimbingan-Nya, sehingga menjadi duta kelimpahan kasih-Nya melalui tindakan sehari-hari yang mencerahkan, berdampak, dan membangun di berbagai ruang lingkup komunitas keseharian. Dalam kasih Kristus, hidup menjadi lebih dari sekadar bernapas, tetapi menjadi penuh makna dan daya ubah.
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 41)







