Pada khotbah Minggu sebelumnya, perenungan firman Tuhan berfokus pada betapa luar biasanya kebaikan hati Allah terhadap bangsa Israel. Meskipun mereka bersungut-sungut dan tidak menghargai karya keselamatan Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, Allah tidak membalas mereka dengan murka. Sebaliknya, Ia menunjukkan belas kasihan-Nya dengan menyediakan makanan dari langit: manna dan burung puyuh. Inilah wujud nyata bahwa Allah tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga memelihara umat-Nya.
Sekalipun demikian, teks leksionari pada Minggu ini memperlihatkan bahwa hati bangsa Israel kembali memberontak. Meskipun telah menerima makanan sebagai berkat, mereka sekali lagi bersungut karena kehabisan air. Bahkan, mereka menuduh Musa membawa mereka ke padang gurun untuk membunuh mereka. Mereka pun secara terang-terangan mempertanyakan kehadiran Allah dengan berkata, "Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel. 17:7). Pemberontakan ini tidak hanya menunjukkan ketidakpercayaan mereka, tetapi juga menjauhkan mereka dari keselamatan yang sesungguhnya sudah dianugerahkan. Bukankah realitas ini juga mencerminkan pengalaman hidup umat? Saat pergumulan menyesakkan dan doa-doa terasa tidak dijawab, iman umat pun goyah, melupakan karya keselamatan Allah dan menjadi seperti bangsa Israel-hampir-hampir melepaskan keselamatan yang telah diterima.
Melalui pengalaman ini, umat disadarkan bahwa keselamatan bukan sekadar "hadiah awal" yang telah diterima begitu saja dan kemudian disimpan, melainkan status relasional yang harus terus-menerus dihidupi, dipelihara, dan diperjuangkan bersama Allah. Keselamatan adalah ziarah iman yang menurut kesetiaan di tengah godaan dan krisis. Dalam permenungan hari ini, umat diajak belajar bagaimana mempertahankan dan menghidupi keselamatan itu dengan taat, tekun dan percaya, agar tidak hilang di tengah ganasnya padang gurun kehidupan.
Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 42







