Bacaan I : Keluaran 17:1-7
Mazmur Tanggapan : Mazmur 95
Bacaan II : Roma 5:1-11
Bacaan Injil : Yohanes 4:5-42
“Piye kabare, isih penak jamanku to?” Slogan yang dalam bahasa Indonesia berarti: Apa kabar, masih enak zaman saya „kan? Muncul di era paska reformasi yang memaksa Orde Baru tumbang. Reformasi 1998 nyatanya tidak serta merta menghantar Indonesia pada situasi politik ekonomi dan stabilitas yang lebih baik. Slogan rindu pada era Orde Baru kembali menawarkan “nostalgia” kemapanan.
Orang ingin kembali ke masa lalu karena nostalgia menawarkan kenyamanan emosional pada saat menghadapi stress, ketidakpastian, dan kesulitan tingkat akut. Dunia psikologi menyebutnya rosy retrospection! Otak manusia cenderung mengidealkan kenangan positif dan pada saat yang sama meredupkan hal-hal yang negatif
Perjalanan padang gurun yang berat membuat umat Israel penat, stres, dan benar-benar menguras emosi. Mereka kehausan bukan saja secara fisik, tetapi juga mental. Rosy retrospection menguasai, muaranya mereka tumpahkan kepada Musa yang dipandang sebagai orang yang paling bertanggung jawab membawa mereka ke padang gurun itu. “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Mereka tidak mengingat kenangan pahit ketika ratusan tahun menjadi budak Mesir. Mereka lupa bahwa dahulu pernah berteriak meminta tolong untuk dilepaskan dari perbudakan itu. Yang mereka ingat adalah bekerja pada orang Mesir dan mendapat makanan. Kecemasan, tekanan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Ingatannya pada masa lalu yang menciptakan ilusi kendali atas emosi. Manusia mencoba melarikan diri dari realitas yang seharusnya dihadapi tetapi merasa pesimis dan tidak mampu!
Pengalaman empiris membuktikan bahwa kendali kontrol palsu akan membuat manusia bias fokus pada kebutuhan sesungguhnya. Kondisi ini tidak pernah akan memuaskan dahaga jiwa manusia. Dalam perjalanan umat di padang gurun, melalui Musa, Allah mengingatkan umat supaya tidak terjebak pada kebutuhan fisik. Allah memberikan secukupnya. Air, roti manna, burung puyuh, dan pakaian yang melekat di badan mereka adalah kebutuhan yang cukup untuk perjalanan sampai negeri perjanjian. Mereka diajar percaya, taat dan bersyukur untuk pemeliharaan Allah.
Hidup kita bagai perjalanan. Ya, kalau Israel berjalan di padang gurun menuju negeri perjanjian. Anda dan saya, sekalipun telah dilepaskan dari perbudakan dosa, kita ada dalam perjalanan menuju “negeri perjanjian”, Yerusalem Baru! Dalam perjalanan itu, kita bisa penat, cape, tertekan dan menderita. Kita membutuhkan “air” pelepas “dahaga” itu. Tidak dipungkiri dalam kondisi tidak baik-baik saja, kendali palsu menguasai hati dan pikiran kita. Di sini kita haus dan di titik ini kita ingat bahwa hanya Yesus yang dapat melepas dahaga kita. Air hidup yang Yesus berikan, sama seperti kepada perempuan Samaria itu. Air hidup itu adalah cinta-Nya. Ya, Yesus mencintai kita, meskipun Ia tahu masa lalu dan dosa kita. Ia merengkuh kita meski kita berlumuran dosa dan tidak pantas untuk dicintai. Ketika Anda dan saya menerima Air Hidup, yakni cinta kasih-Nya, pasti kehidupan kita akan memancarkan Air Hidup itu.
Mari siapkan bejana hati kita untuk menampungnya. Air kehidupan itulah yang akan menolong kita untuk sampai ke negeri perjanjian. Air itulah yang akan membuat kita mampu untuk tidak bersungut-sungut meski melewati lembah air mata, jurang yang dalam dan gunung yang terjal. Bahkan, seperti yang dikatakan Paulus, dalam kondisi itu justru kita akan bisa bermegah karena menuntun kita kepada pengharapan yang sejati (Roma 5:3-5).
Pdt Nanang (GKI Mangga Besar)








