Bacaan I : Kejadian 1:1-2:4a
Mazmur Tanggapan : Mazmur 8
Bacaan II : 2 Korintus 13:11-13
Bacaan Injil : Matius 28:16-20
Topik Trinitas selalu seru untuk dibahas, karena baik secara internal dalam sejarah gereja maupun secara eksternal dalam konteks dialog agama-agama, pandangan tentang Trinitas selalu memunculkan keragaman pemahaman. Ketegangan tak hanya terjadi antara penganut Oneness of God dan Triune God, tetapi juga di antara triteisme (3 pribadi, 3 Allah), modalisme/ sabelianisme (1 pribadi dalam 3 wujud), dan juga suboordinasianisme/ arianisme (Yesus lebih rendah daripada Bapa, Roh Kudus lebih rendah daripada Anak). Oleh karena itu, khotbah tentang Trinitas yang disampaikan dalam durasi 20-25 menit tentu akan menjadi "percakapan tepi jurang", yang bisa saja membuat pengkhotbah ataupun umat terperosok dalam jurang kesalahpahaman. Namun, justru itulah tugas seorang pengkhotbah pada Minggu Trinitas.
Pada Minggu Trinitas, umat ditantang untuk tidak melarikan diri dari tugas pemberitaan tentang Allah Persekutuan dalam Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Umat diajak untuk memberitakan Allah Trinitas melalui perspektif historis, sistematis, biblis, sekaligus etis. Penjelasan doktrinal tentang Trinitas hanya akan menjadi sederet pengajaran kaku, jika tak diiringi penjelasan jujur dan konteks historis tentangnya. Sementara itu, uraian epistemologis Trinitas hanyalah akan menjadi bahasa langit yang tidak relevan, tanpa pendaratan dimensi etis yang membuat jemaat menghidupi hakikat Sang Tritunggal dalam keseharian.
Di dalam Trinitas, keesaan Allah berkait erat dengan kemajemukan-Nya. Esa (ehad) berarti satu-satunya, tak tertandingi, dan tak tersaingi. Mengakui keesaan Allah berarti mengakui bahwa seluruh semesta bersumber dan dihidupi oleh Allah yang Mahabesar, yang tak dapat dimonopoli oleh satu dalil keyakinan, ataupun satu bangsa istimewa saja. Oleh karena itu, semua tindakan diskriminasi, yang membedakan manusia dan upaya mengeliminasi keberagaman akan merupakan bentuk penyangkalan atau setidaknya pengkhianatan terhadap keesaan Allah. Di sisi lain, Allah yang Esa itu dikenal sebagai tiga pribadi yang dipanggil sebagai Bapa, Sang Daya Cipta yang menubuh di tengah sejarah dalam Yesus Kristus, dan dirasakan dalam karya Sang Roh Kudus. Allah yang satu-satunya, tak tertandingi, tak tersaingi, di dalam diri-Nya ada kasih kekeluargaan, solidaritas, dan persekutuan, yang menyeruak dalam Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Melalui bacaan leksionari Minggu ini, umat diajak untuk memahami bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang sejak kekal mencipta, menyatakan diri, dan menjadi sumber hidup sampai selama-lamanya. Dengan percaya kepada-Nya, umat dipanggil untuk menginternalisasi dimensi kekeluargaan, solidaritas, dan persekutuan dalam dirinya. serta mengekspresikannya dalam laku hidup baik di tengah keluarga, gereja, masyarakat, maupun alam semesta. Ketika Sang Tritunggal ada di pikiran, di hati, dan "di tangan," maka pendekatan trinitaris akan menjadi panduan etis bagi setiap orang percaya. Dengan demikian, hidup umat akan selalu menjadi sang pemantul gema keagungan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 42)







