Bacaan I : Keluaran 17:1-7
Mazmur Tanggapan : Mazmur 95
Bacaan II : Roma 5:1-11
Bacaan Injil : Yohanes 4:5-42
Dalam Masa Pra-Paskah, umumnya orang Kristen mempraktikkan aksi puasa dan berpantang sebagai bentuk latihan spiritual dalam menyambut Paskah. Tujuannya adalah agar umat semakin melekat pada Allah dan menyadari hal-hal yang dapat membuatnya berpaling dari Allah. Dalam masa berpuasa atau berpantang, mungkin dirasakan sensasi fisik seperti kehausan, kelaparan, gelisah, atau rasa putus candu (withdrawal syndrom), karena menahan untuk menikmati halhal yang sangat disukai (kopi, coklat, gawai, dsb.).
Akan tetapi, bagi sebagian orang lainnya, tanpa puasa dan pantang pun, Masa Pra-Paskah menjadi sangat nyata dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ini dirasakan ketika umat sedang terperangkap dalam situasi kekurangan materi dan tertekan oleh berbagai persoalan hidup, seakanakan tidak ada jalan keluar. Dalam Minggu III pada Masa Pra-Paskah, umat diajak untuk merenungkan pengalaman kekurangan, sulit dan buntu, dalam konteks dahaga.
Setiap orang kemungkinan pernah merasakan dahaga di dalam kehidupannya, baik dahaga fisik maupun spiritual. Dahaga spiritual dapat dipicu oleh berbagai hal. Misalnya, sakit berkepanjangan, kesulitan ekonomi, keretakan relasi, dan sebagainya. Ketika menghadapinya, seseorang mungkin merasa gelisah, putus asa, bahkan hingga mempertanyakan kehadiran Tuhan, sebagaimana Bangsa Israel yang berseru, "Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel. 17:7b).
Keluaran 17:1-7 dan Yohanes 4:5-42 mengajak umat merenungkan bagaimana anugerah Tuhan dinyatakan di tengah dahaga kehidupan. Tuhan mengizinkan umat-Nya mengalami dahaga fisik dan spiritual agar menyadari kebutuhan terdalamnya, yakni anugerah cinta Allah. Anugerah Allah sungguh melampaui keterbatasan dan kedegilan manusia. Anugerah Allah diberikan bukan karena umat layak, melainkan karena hakikat Allah adalah Allah yang penuh kasih. Sekalipun bangsa Israel bersungut-sungut, Allah tetap memberikan air yang memancar dari batu di Gunung Horeb. Tindakan Allah tersebut dilakukan-Nya untuk mengajarkan kepada Bangsa Israel bahwa Allah memelihara kehidupan mereka. Sekalipun perempuan Samaria itu dalam stigma masyarakat sebagai orang yang pernah terjatuh dalam relasi tidak sehat dengan berbagai laki-laki, Tuhan Yesus mengundangnya untuk masuk ke dalam anugerah pertobatan. Bahkan, perempuan itu dipanggil untuk menjadi saksi-Nya.
(Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 41)








