Setiap orang percaya tentu menyadari dan mengimani bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan tidak terlepas dari kehendak Allah. Allahlah yang mengizinkan segala sesuatu terjadi. Maka, Allah yang terlibat dalam segala sesuatu itulah yang telah memilih umat-Nya. Dia juga yang memilih sebagian orang menjadi pemimpin atas yang lain. Berdasarkan kesadaran akan iman yang demikian, umat yang dipilih oleh Allah terlebih mereka yang dipilih menjadi pemimpin umatsudah selayaknya memberi diri dan hidup dalam pimpinan Allah. Ini menjadi penting karena melalui para pemimpin umat, Allah berbicara menyampaikan kehendak-Nya.
Dalam praktik hidup keseharian, ternyata tidak semua pemimpin yang dipilih oleh Allah bersedia memberi diri hidup dalam pimpinan Allah. Ada banyak pemimpin yang bertindak sewenangwenang, yang mementingkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Ada banyak orang terlena dengan kuasa yang dimilikinya saat menjadi pemimpin. Ini membuat seorang pemimpin tidak dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, sehingga kepemimpinannya tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Pada Minggu ini, umat diajak untuk meneladani kepemimpinan Yosua. Yosua dipilih oleh Allah untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin umat. Tentu ini tidaklah mudah, mengingat sosok Musa adalah pemimpin pilihan Allah yang membawa umat keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Ketika Allah memilih umat-Nya untuk menjadi seorang pemimpin, Allah yang memilih itu akan menyertai serta memampukan umat yang dipilih-Nya. Allah membuat nama Yosu menjadi besar dan menyertai Yosua seperti Ia menyertai Musa. Yosua adalah sosok pemimpin yang memberi diri dan hidupnya dipimpin oleh Allah. Yosua menyadari bahwa dalam kepemimpinannya, ia tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia, tetapi juga kepada Allah.
Disadur dari Buku Dian Penuntun Edisi 42







